Ekosistem Mangrove Desa Tanah Merah: Warisan Alam yang Harus Dijaga Bersama

26 Juli 2026
Administrator
Dibaca 9 Kali
Ekosistem Mangrove Desa Tanah Merah: Warisan Alam yang Harus Dijaga Bersama

Oleh: Andi Zaidul Khair
Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Negeriku
Pegiat Mangrove Desa Tanah Merah

Setiap tanggal 26 Juli, dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia (International Day for the Conservation of the Mangrove Ecosystem). Peringatan yang ditetapkan UNESCO ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan pengingat bahwa hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem paling penting di bumi yang harus dijaga keberadaannya. Di tengah ancaman perubahan iklim, abrasi pantai, dan menurunnya kualitas lingkungan pesisir, mangrove menjadi benteng alami yang semakin bernilai bagi kehidupan manusia.

Bagi masyarakat Desa Tanah Merah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir, mangrove bukan sekadar hamparan pepohonan yang tumbuh di pesisir. Mangrove adalah pelindung kampung, penyangga kehidupan nelayan, tempat berkembang biaknya berbagai jenis ikan, udang, dan kepiting, sekaligus warisan alam yang harus dijaga bersama. Karena itu, Hari Mangrove Sedunia seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir yang menjadi sumber kehidupan.

Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan mangrove terluas di dunia. Kekayaan tersebut membawa tanggung jawab besar untuk memastikan keberlanjutan ekosistemnya. Sayangnya, di berbagai daerah, termasuk wilayah pesisir yang memiliki potensi mangrove, ancaman terhadap kelestarian kawasan masih terus terjadi akibat abrasi, alih fungsi lahan, pencemaran, serta aktivitas manusia yang belum memperhatikan prinsip keberlanjutan.

Pengalaman saya sebagai pegiat mangrove sejak tahun 2022 memberikan pelajaran bahwa menjaga mangrove tidak cukup hanya melalui program penanaman sesaat. Konservasi memerlukan komitmen jangka panjang, kesabaran, dan keterlibatan aktif masyarakat. Pohon mangrove membutuhkan waktu untuk tumbuh, berkembang, dan menjalankan fungsi ekologisnya. Oleh karena itu, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari tingkat keberhasilan tumbuh, pemeliharaan, dan keberlanjutan kawasan yang direhabilitasi.

Melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Negeriku, kami terus berupaya membangun kesadaran tersebut. Sejak tahun 2022 hingga saat ini, berbagai kegiatan swadaya telah kami lakukan bersama anggota kelompok dan masyarakat, mulai dari penanaman mangrove, pemeliharaan kawasan rehabilitasi, pembersihan sampah pesisir, penyediaan bibit, hingga edukasi kepada masyarakat dan generasi muda mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove.

Semangat gotong royong menjadi fondasi utama dalam setiap kegiatan. Kami percaya bahwa keberhasilan konservasi tidak akan tercapai tanpa rasa memiliki dari masyarakat. Ketika masyarakat memahami bahwa mangrove memberikan manfaat nyata bagi kehidupan mereka, maka upaya pelestarian akan tumbuh menjadi budaya, bukan sekadar kewajiban.

Mangrove juga memiliki nilai ekonomi yang dapat dikelola secara berkelanjutan. Pengembangan hasil hutan bukan kayu, usaha perikanan ramah lingkungan, pembibitan mangrove, hingga ekowisata merupakan peluang yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan. Pendekatan inilah yang perlu terus dikembangkan agar konservasi dan peningkatan ekonomi berjalan beriringan.

Desa Tanah Merah memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengelolaan mangrove berbasis masyarakat di Kabupaten Indragiri Hilir. Dukungan pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat, dan kelompok-kelompok lokal harus terus diperkuat agar upaya rehabilitasi mangrove memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial-ekonomi yang berkelanjutan.

Momentum Hari Mangrove Sedunia hendaknya menjadi pengingat bahwa menjaga mangrove bukan hanya tugas para pegiat lingkungan atau pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama. Setiap bibit yang ditanam, setiap kawasan yang dijaga, dan setiap bentuk kepedulian terhadap lingkungan merupakan investasi bagi masa depan anak cucu kita.

Sebagai Ketua Kelompok Tani Hutan Hijau Negeriku, saya mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Hari Mangrove Sedunia sebagai titik awal memperkuat gerakan pelestarian mangrove di Desa Tanah Merah. Mari kita tanamkan kesadaran bahwa mangrove adalah benteng kehidupan pesisir yang tidak tergantikan.

Menjaga mangrove berarti menjaga rumah kita dari ancaman abrasi dan perubahan iklim. Menanam mangrove berarti menanam harapan bagi generasi mendatang. Dan melestarikan mangrove berarti mewariskan lingkungan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Semoga semangat Hari Mangrove Sedunia tidak berhenti pada peringatan tahunan, tetapi menjadi gerakan nyata yang terus hidup di tengah masyarakat. Karena masa depan pesisir Indonesia sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga mangrove hari ini.