Sekolah Lapang Livelihood Lot 2 Perkuat Kapasitas Usaha KTH Hijau Negeriku di Desa Tanah Merah
TANAH MERAH, INDRAGIRI HILIR – PPIU Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) Riau bersama LPM EQUATOR melaksanakan kegiatan Sekolah Lapang (Field School) Livelihood – Lot 2 di Desa Tanah Merah, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, pada 28–30 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut dilaksanakan di Aula Kantor Desa Tanah Merah dan Sekretariat KTH Hijau Negeriku, dengan peserta yang terdiri dari Ketua dan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Hijau Negeriku.
Sekolah Lapang Livelihood – Lot 2 merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan masyarakat dalam mengembangkan usaha produktif, memperkuat kelembagaan kelompok, meningkatkan kualitas produk, serta membuka akses pemasaran yang lebih luas melalui pemanfaatan teknologi digital.
Kegiatan tersebut turut dihadiri dan didampingi oleh tim PPIU M4CR Riau, yaitu Irwandi, S.Sos, selaku Field School and Livelihood Q&C Assistant; Agus Rianto, S.I.Kom, selaku fasilitator livelihood; Saskia Giovina, S.Hut, selaku fasilitator livelihood; serta Debby Debriyani Pratiwi, S.Hut, selaku pendamping desa.
Sementara dari LPM EQUATOR hadir Alifiandra Agesya, S.Ak, selaku Admin & Finance.
Dalam pembukaan kegiatan, Kepala Desa Tanah Merah, H. Martin, S.Pd., SD, menyampaikan apresiasi dan dukungan Pemerintah Desa Tanah Merah terhadap pelaksanaan Sekolah Lapang Livelihood – Lot 2.
Menurutnya, kegiatan tersebut sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, khususnya anggota KTH Hijau Negeriku, agar mampu mengembangkan usaha secara lebih terarah dan berkelanjutan.
“Kami dari Pemerintah Desa Tanah Merah sangat mendukung kegiatan seperti ini. Pelatihan dan pendampingan yang diberikan kepada KTH Hijau Negeriku diharapkan dapat meningkatkan kemampuan anggota kelompok dalam mengelola usaha, mengembangkan produk, serta memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran,” ujar H. Martin.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan secara nyata dalam pengembangan usaha kelompok dan memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kami berharap KTH Hijau Negeriku dapat terus berkembang menjadi kelompok yang mandiri dan produktif. Usaha yang dikembangkan jangan hanya berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi harus terus dilanjutkan, dikembangkan, dan dikelola secara profesional sehingga dapat memberikan manfaat bagi anggota kelompok dan masyarakat Desa Tanah Merah,” tambahnya.
H.Martin juga berharap sinergi antara Pemerintah Desa, PPIU M4CR Riau, LPM EQUATOR, KTH Hijau Negeriku, serta berbagai pihak terkait dapat terus diperkuat dalam rangka mendukung pengembangan usaha masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan pengembangan usaha dan peningkatan kapasitas kelembagaan kelompok.
Salah satu materi utama disampaikan oleh Saipudin Ikhwan, S.I.Kom., MA, dari BPC HIPMI Indragiri Hilir, dengan materi “Manajemen Usaha Kelembagaan Kelompok dan Digitalisasi Pemasaran Produk.”
Materi tersebut memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya pengelolaan usaha secara profesional dan terencana, termasuk pembagian peran dalam kelompok, perencanaan usaha, administrasi, pencatatan keuangan, pengembangan produk, serta strategi pemasaran.
Peserta juga diperkenalkan dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pemasaran produk. Digitalisasi pemasaran dinilai menjadi salah satu peluang penting bagi KTH Hijau Negeriku untuk memperluas jangkauan pasar, memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas, serta meningkatkan daya saing produk kelompok.
Salah satu kegiatan utama dalam Sekolah Lapang Livelihood – Lot 2 adalah praktik pengolahan bakso yang dilaksanakan di Rumah Produksi Bakso KTH Hijau Negeriku.
Materi pengolahan bakso disampaikan oleh Dr. Rifni Novitasari, S.TP., MP, dari Universitas Dharma Andalas. Kegiatan dilaksanakan melalui penyampaian materi dan praktik langsung, sehingga peserta tidak hanya memperoleh pemahaman secara teori, tetapi juga mendapatkan pengalaman teknis dalam proses produksi bakso.
Dalam praktik tersebut, anggota KTH Hijau Negeriku secara langsung mempelajari dan mempraktikkan pengolahan bakso ikan dan bakso ayam. Kedua jenis bakso tersebut menjadi bagian dari pengembangan awal usaha pengolahan pangan KTH Hijau Negeriku.
Peserta mendapatkan pengetahuan mengenai berbagai tahapan produksi, mulai dari pemilihan dan persiapan bahan baku, penggilingan, pencampuran adonan, pengaturan komposisi bahan, pembentukan bakso, proses perebusan, hingga penanganan produk setelah proses produksi.
Selain keterampilan teknis, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kebersihan, sanitasi, kualitas bahan baku, konsistensi rasa dan tekstur, serta keamanan pangan dalam menghasilkan produk yang berkualitas dan layak dipasarkan.
Praktik pengolahan bakso ikan dan ayam tersebut menjadi langkah awal bagi KTH Hijau Negeriku dalam memperkuat Rumah Produksi Bakso KTH sebagai salah satu unit usaha produktif kelompok. Peningkatan kapasitas anggota diharapkan dapat mendukung proses produksi yang lebih tertata, higienis, efisien, dan konsisten.
Ke depan, KTH Hijau Negeriku berencana untuk terus melakukan pengembangan dan penambahan varian produk bakso sesuai dengan kebutuhan konsumen dan peluang pasar. Selain bakso ikan dan ayam yang telah dipraktikkan, kelompok juga memiliki rencana mengembangkan bakso udang dan bakso daging, serta berbagai varian lainnya secara bertahap.
Rencana penambahan varian tersebut menjadi bagian dari strategi kelompok untuk menciptakan produk yang lebih beragam dan memberikan lebih banyak pilihan kepada konsumen. Pengembangan produk nantinya tidak hanya diarahkan pada jenis bahan baku, tetapi juga dapat mencakup inovasi rasa, bentuk, ukuran, kemasan, branding, serta strategi pemasaran.
Dengan adanya pengembangan berbagai varian tersebut, KTH Hijau Negeriku diharapkan mampu meningkatkan daya tarik produk, memperluas segmen pasar, serta meningkatkan nilai tambah dari usaha pengolahan bakso yang sedang dikembangkan.
Ketua KTH Hijau Negeriku, Andi Zaidul Khair,S.Kom, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PPIU M4CR Riau, LPM EQUATOR, Pemerintah Desa Tanah Merah, serta seluruh narasumber yang telah memberikan ilmu, pendampingan, dan pengalaman kepada anggota KTH Hijau Negeriku.
Menurutnya, kegiatan Sekolah Lapang Livelihood – Lot 2 memberikan banyak manfaat bagi kelompok, terutama dalam meningkatkan pemahaman mengenai manajemen usaha, kelembagaan kelompok, digitalisasi pemasaran, serta keterampilan pengolahan produk.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PPIU M4CR Riau, LPM EQUATOR, Pemerintah Desa Tanah Merah, dan seluruh narasumber yang telah memberikan ilmu dan pendampingan kepada KTH Hijau Negeriku. Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya sekadar pelatihan, tetapi merupakan bekal penting untuk mengembangkan usaha kelompok agar semakin baik dan berkelanjutan,” ujar Andi Zaidul Khair.
Ia menegaskan bahwa ilmu yang diperoleh dari kegiatan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pengembangan bagi KTH Hijau Negeriku, khususnya dalam meningkatkan kualitas usaha pengolahan bakso.
“Kami berharap apa yang telah dipelajari selama tiga hari ini dapat langsung kami terapkan. Kami ingin usaha KTH Hijau Negeriku semakin tertata, mulai dari manajemen kelompok, proses produksi, kualitas produk, kemasan, hingga pemasaran,” lanjutnya.
Menurut Andi, praktik pengolahan bakso ikan dan ayam menjadi pengalaman penting bagi anggota kelompok dalam mempersiapkan pengembangan usaha.
“Dalam praktik ini kami belajar mengolah bakso ikan dan bakso ayam. Ini menjadi bekal bagi kami untuk mengembangkan Rumah Produksi Bakso KTH Hijau Negeriku. Ke depan kami juga ingin menambah varian, termasuk bakso udang dan bakso daging, serta varian lainnya sesuai dengan kebutuhan dan selera pasar,” ungkapnya.
Ia berharap pengembangan produk tersebut dapat dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan kualitas dan tata kelola usaha.
“Harapan kami pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut. Kami ingin Rumah Produksi Bakso KTH Hijau Negeriku tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga memiliki manajemen usaha yang baik, menghasilkan produk berkualitas, memiliki kemasan yang menarik, mampu memanfaatkan pemasaran digital, serta terus berinovasi dalam mengembangkan varian produk,” tambahnya.
Pelaksanaan Sekolah Lapang Livelihood – Lot 2 di Desa Tanah Merah diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis kelompok.
Perpaduan antara materi kelembagaan, manajemen usaha, digitalisasi pemasaran, serta praktik pengolahan bakso memberikan bekal yang lebih lengkap bagi anggota KTH Hijau Negeriku untuk mengembangkan usaha mulai dari aspek produksi hingga pemasaran.
Praktik bakso ikan dan bakso ayam menjadi langkah awal pengembangan produk, sementara rencana penambahan bakso udang, bakso daging, dan varian lainnya menjadi bagian dari arah inovasi usaha KTH Hijau Negeriku ke depan.
Kegiatan tersebut juga mendorong anggota kelompok untuk membangun pola usaha yang lebih terencana, profesional, produktif, inovatif, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Dengan dukungan PPIU M4CR Riau, LPM EQUATOR, Pemerintah Desa Tanah Merah, narasumber, serta seluruh anggota KTH Hijau Negeriku, diharapkan usaha livelihood dapat terus berkembang dan menjadi salah satu sumber peningkatan pendapatan masyarakat.
Kegiatan selama tiga hari tersebut sekaligus menjadi langkah bersama dalam memperkuat kapasitas KTH Hijau Negeriku agar semakin mandiri, produktif, inovatif, dan mampu mengembangkan potensi usaha lokal secara berkelanjutan di Desa Tanah Merah. (azk)
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin